JAMBI,promedianusantara.com – Pemerintah Kota Jambi memanfaatkan suasana Ramadan sebagai momentum memperkuat kebersamaan antara pemerintah dan masyarakat. Melalui kegiatan buka puasa bersama pimpinan pondok pesantren, tokoh agama, serta berbagai organisasi kemasyarakatan, Wali Kota Jambi Maulana menegaskan pentingnya sinergi lintas elemen dalam mewujudkan visi pembangunan Kota Jambi Bahagia.

Kegiatan yang digelar di Aula Griya Mayang, rumah dinas Wali Kota Jambi, berlangsung hangat dan penuh keakraban. Selain menjadi ajang berbuka puasa bersama, pertemuan tersebut juga dimanfaatkan sebagai ruang dialog dan penguatan peran ulama serta organisasi masyarakat sebagai mitra strategis pemerintah daerah.

Dalam sambutannya, Maulana menekankan bahwa konsep “bahagia” dalam arah pembangunan Kota Jambi tidak hanya dimaknai dari kemajuan fisik semata. Menurutnya, kebahagiaan sebuah kota juga sangat ditentukan oleh kualitas moral, spiritualitas, dan karakter masyarakatnya.

“Dalam visi Kota Jambi Bahagia, aspek spiritual menjadi fondasi utama. Infrastruktur dapat dibangun dengan cepat, tetapi jika generasi muda tidak memiliki akhlak yang kuat, maka cita-cita kebahagiaan kota belum sepenuhnya tercapai,” ujarnya.

Ia juga memberikan apresiasi kepada para ulama, organisasi keagamaan, dan ormas yang selama ini aktif menjaga keharmonisan sosial serta membantu pemerintah dalam berbagai aktivitas pelayanan masyarakat.

Menurut Maulana, kontribusi para tokoh agama tidak hanya berperan dalam pembinaan keimanan masyarakat, tetapi juga menjadi penjaga stabilitas sosial yang sangat penting bagi kemajuan daerah.

Dalam kesempatan tersebut, Maulana memaparkan sejumlah program kesejahteraan yang terus didorong oleh Pemerintah Kota Jambi, khususnya bagi para pelayan keagamaan. Program tersebut meliputi dukungan bagi guru mengaji, petugas syara, hingga pengurus rumah ibadah.

Salah satu kebijakan yang tengah diperjuangkan adalah pemberian perlindungan BPJS Ketenagakerjaan bagi marbot dan imam masjid di seluruh wilayah Kota Jambi.

Langkah itu dinilai sebagai bentuk perhatian pemerintah terhadap para tokoh yang selama ini bekerja secara tulus menjaga kehidupan religius masyarakat.

“Para marbot dan imam masjid memiliki peran besar dalam kehidupan sosial masyarakat. Sudah sewajarnya mereka juga mendapatkan perlindungan yang layak,” ungkapnya.

Tidak hanya membahas program sosial keagamaan, Maulana juga menjelaskan perkembangan Program Kampung Bahagia, sebuah strategi pembangunan berbasis masyarakat yang saat ini terus diperluas implementasinya di berbagai wilayah.

Pemerintah Kota Jambi menargetkan program tersebut menjangkau sekitar 803 RT hingga Juni 2026. Selanjutnya, pelaksanaan akan dilanjutkan secara bertahap pada periode Juli hingga Desember 2026 sehingga keseluruhan program dapat menyentuh 1.583 RT.

Dalam pelaksanaannya, setiap RT akan membentuk kelompok kerja yang melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari tokoh agama, pemuda, perempuan, hingga perangkat lingkungan.

Melalui pendekatan partisipatif tersebut, pemerintah berharap masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat pembangunan, tetapi juga menjadi bagian aktif dalam merumuskan dan menjalankan program yang ada.

“Pembangunan akan lebih efektif jika dirancang bersama warga. Ketika masyarakat dilibatkan sejak awal, rasa tanggung jawab dan kepemilikan terhadap program akan tumbuh secara alami,” jelas Maulana.

Ia juga membuka peluang seluas-luasnya bagi organisasi masyarakat untuk berpartisipasi dalam berbagai program pembangunan daerah, selama kegiatan yang dilakukan memberikan dampak positif bagi kehidupan warga.

Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, ulama, dan masyarakat menjadi fondasi penting dalam menciptakan pembangunan yang inklusif serta berkelanjutan.

“Ini saatnya kita bergerak bersama membangun Kota Jambi. Ketika seluruh elemen masyarakat bersatu, pembangunan akan berjalan lebih kuat dan manfaatnya bisa dirasakan oleh semua,” tegasnya.

Melalui momentum Ramadan ini, Pemerintah Kota Jambi kembali menegaskan arah pembangunan daerah yang tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik kota, tetapi juga penguatan nilai-nilai spiritual, solidaritas sosial, serta partisipasi aktif masyarakat sebagai landasan menuju Kota Jambi yang maju, harmonis, dan sejahtera.