Antara kritik dan sentimen : Khairon Fauzi ajak masyarakat Jambi untuk menjaga keseimbangan demokrasi Jambi
Jambi, promedianusantara.com – Dalam beberapa waktu terakhir, ruang publik di Provinsi Jambi diwarnai oleh meningkatnya serangan opini dan pemberitaan yang sering kali bernada keras bahkan cenderung membabi-buta. Media—baik media arus utama maupun media sosial—menjadi arena pertarungan narasi yang kadang lebih didorong oleh sentimen personal dibandingkan kepentingan publik yang lebih luas
Dalam situasi seperti ini, seruan Khairon dari Toko Muda Jambi untuk menjaga stabilitas daerah patut menjadi perhatian bersama
Demokrasi pada hakikatnya memberikan kebebasan kepada masyarakat untuk menyampaikan pendapat, melakukan kritik, serta mengawasi jalannya pemerintahan. Kebebasan ini adalah pilar penting dalam sistem yang sehat. Namun, kebebasan yang tidak diimbangi dengan tanggung jawab dapat berubah menjadi alat untuk menyerang, memprovokasi, bahkan merusak kepercayaan publik terhadap institusi dan tokoh masyarakat tanpa dasar yang kuat
Fenomena serangan media yang berlebihan di Jambi saat ini menunjukkan adanya kecenderungan penggunaan ruang publik sebagai sarana melampiaskan sentimen personal. Kritik yang seharusnya berbasis data, analisis, dan kepentingan masyarakat sering kali berubah menjadi opini yang emosional dan spekulatif
Akibatnya, masyarakat menjadi bingung membedakan mana informasi yang benar dan mana yang hanya sekadar narasi yang dibangun untuk kepentingan tertentu.
Kondisi ini tentu berpotensi mengganggu stabilitas sosial dan politik di daerah. Jika dibiarkan, polarisasi di tengah masyarakat dapat semakin tajam. Kepercayaan terhadap media pun bisa menurun, karena publik melihat pemberitaan tidak lagi sepenuhnya berfungsi sebagai sarana informasi yang objektif, tetapi sebagai alat untuk menyerang pihak tertentu
Oleh karena itu, penting bagi semua pihak—baik media, tokoh masyarakat, maupun masyarakat umum—untuk menahan diri dan mengedepankan etika dalam menyampaikan pendapat. Kritik tetap harus disampaikan, karena kritik adalah bagian dari demokrasi. Namun kritik harus bersandar pada fakta, argumentasi yang sehat, serta tujuan untuk memperbaiki keadaan, bukan sekadar memperkeruh suasana
Media juga memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga keseimbangan informasi. Pemberitaan yang berimbang, verifikasi fakta, serta keberanian untuk tidak ikut dalam arus sensasionalisme menjadi kunci agar media tetap dipercaya oleh masyarakat
Pada akhirnya, menjaga stabilitas Jambi bukan berarti membungkam kritik. Justru stabilitas yang sehat lahir dari kritik yang konstruktif, dialog yang terbuka, dan kesadaran bersama bahwa kebebasan demokrasi harus digunakan secara bijak. Seruan Khairon menjadi pengingat bahwa kebebasan tidak boleh berubah menjadi alat untuk memecah belah, tetapi harus menjadi jembatan untuk membangun daerah yang lebih dewasa dalam berdemokrasi
