Jambi, promedianusantara.com – Di balik tembok tinggi Lapas Perempuan Kelas IIB Jambi, kehidupan tak hanya berjalan dalam sunyi. Ada suara halus yang berulang gesekan canting di atas kain, tetesan lilin yang jatuh perlahan, dan warna-warna yang mulai bercerita. Dari ruang yang terbatas itu, lahir sesuatu yang lebih besar: harapan.27 April 2026

Momentum Hari Bhakti Pemasyarakatan menjadi pengingat perubahan besar dalam sistem pemasyarakatan Indonesia sejak 1964 dari sekadar menghukum menjadi membina. Semangat itulah yang kini hidup kembali melalui program Srikandi Perubahan, inisiatif PT Pertamina EP Field Jambi yang berada di bawah naungan PT Pertamina Hulu Rokan.

Program ini bukan sekadar pelatihan. Ia adalah jalan keluar dari lingkaran masalah yang selama ini menghantui tingginya angka residivisme, khususnya pada kasus narkoba di kalangan perempuan. Tanpa bekal, banyak yang kembali terjerumus. Namun di sinilah Srikandi Perubahan mengambil peran: memutus rantai itu dengan langkah nyata.

Dimulai sejak 2018, sempat terhenti akibat pandemi COVID-19, program ini bangkit kembali pada 2021 dengan arah yang lebih kuat. Batik menjadi pintu masuk perubahan. Namun di tangan para warga binaan, batik bukan sekadar kain ia menjadi medium pemulihan diri, ruang ekspresi, sekaligus simbol harapan baru.

Setiap goresan canting bukan hanya membentuk motif, tetapi juga memperbaiki cerita hidup.

Ajeng (bukan nama sebenarnya), salah satu warga binaan, merasakan langsung perubahan itu. Dari sekadar belajar memegang canting, kini ia memiliki keterampilan menjahit dan keyakinan baru.

“Saya belajar memperbaiki diri dengan terus belajar. Ini akan jadi bekal saat saya keluar nanti,” ujarnya lirih.

Dari keterampilan sederhana, peluang pun terbuka. Kini, terdapat sedikitnya 10 unit usaha yang berkembang di dalam lapas mulai dari kuliner, kriya, salon, laundry, hingga pertanian dan peternakan. Di ruang terbatas, roda ekonomi kecil mulai berputar, menghadirkan rasa berdaya yang selama ini hilang.

Tak hanya keterampilan teknis, para peserta juga dibekali kemampuan mengelola emosi, berbicara di depan umum, hingga literasi keuangan. Bekal ini menjadi kunci penting saat mereka kembali ke masyarakat.

Lebih dari itu, program ini juga menanamkan kesadaran lingkungan. Limbah batik diolah melalui instalasi khusus, kompos diproduksi, dan air hujan dimanfaatkan kembali. Sebuah ekosistem kecil terbentuk—mengajarkan bahwa perubahan mencakup manusia dan lingkungannya sekaligus.

Apa yang tumbuh di balik jeruji itu kini menggema hingga dunia internasional. Dalam ajang 18th Annual Global CSR & ESG Summit & Awards 2026 di Bangkok, Thailand, Srikandi Perubahan meraih Platinum Award untuk kategori Women Empowerment—penghargaan tertinggi yang mengakui upaya pemberdayaan perempuan secara nyata.

Manager Community Involvement & Development (CID) Regional 1, Iwan Ridwan Faizal, menegaskan bahwa penghargaan tersebut bukanlah tujuan akhir.

“Ini adalah pengingat bahwa setiap individu berhak mendapatkan kesempatan kedua. Kami ingin para warga binaan tidak hanya menjalani hukuman, tetapi juga mempersiapkan masa depan,” ujarnya.

Kini, di tempat yang dulu dianggap sebagai akhir perjalanan, justru tumbuh awal yang baru. Dari balik jeruji, para perempuan itu sedang menata ulang hidup—dengan keberanian, keterampilan, dan keyakinan.

Karena sejatinya, setinggi apa pun tembok berdiri, selalu ada celah bagi manusia untuk bangkit dan memulai kembali.