JAMBI, promedianusantara.com – Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gelombang Muda Indonesia (GMI) kembali menunjukkan komitmennya dalam membangun kesadaran dan semangat kepemudaan melalui forum diskusi bertajuk NGOLAM (Ngopi Malam). Mengusung tema “Jadi Peradaban Batanghari, Energi Masa Depan Kaum Muda Melayu Indonesia”, kegiatan ini menjadi ruang pertemuan para pemuda, aktivis, akademisi, dan tokoh masyarakat untuk membahas arah masa depan generasi muda serta kebangkitan peradaban Melayu dari Jambi.

Acara yang berlangsung dalam suasana hangat dan penuh gagasan tersebut menegaskan bahwa kebangkitan suatu bangsa tidak dapat dilepaskan dari kekuatan pemudanya. Diskusi yang digelar hingga malam hari itu dipenuhi semangat kolaborasi, optimisme, dan tekad untuk menghadirkan gerakan kepemudaan yang nyata dan berdampak bagi masyarakat.

Ketua Umum DPP GMI, Ali Akbar Asemi, dalam sambutannya menegaskan bahwa Gelombang Muda Indonesia bukan sekadar organisasi, melainkan sebuah gerakan yang lahir dari keresahan dan harapan anak-anak muda Indonesia.

“GMI adalah gerakan yang bisa membuat anak muda bergerak. Karena negara ini tanpa pemuda akan sulit bergerak. Tulang punggung negara adalah anak-anak muda Indonesia. Kalau pemuda diam, maka bangsa ini akan kehilangan energi perubahan,” ujar Ali Akbar Asemi di hadapan peserta NGOLAM.

Menurutnya, GMI terbentuk dari kumpulan anak-anak muda yang sering berdiskusi dan ngopi malam di Jakarta, membicarakan berbagai persoalan bangsa, mulai dari pendidikan, ekonomi, budaya, hingga masa depan Indonesia. Dari pertemuan-pertemuan sederhana tersebut lahirlah sebuah gagasan besar: membangun wadah yang mampu menggerakkan generasi muda agar tidak hanya menjadi penonton, tetapi menjadi pelaku perubahan.

Ali Akbar menekankan bahwa tema Peradaban Batanghari dipilih bukan tanpa alasan. Sungai Batanghari merupakan simbol sejarah panjang peradaban Melayu yang pernah menjadi pusat perdagangan, kebudayaan, dan peradaban di Nusantara. Oleh karena itu, generasi muda Jambi memiliki tanggung jawab moral untuk menghidupkan kembali semangat kejayaan tersebut dalam konteks modern.

“Batanghari bukan hanya sungai, tetapi simbol peradaban. Dari Batanghari kita belajar bahwa sebuah peradaban besar lahir dari keberanian berpikir, bekerja, dan berkolaborasi. Anak muda Melayu Indonesia harus menjadi energi masa depan yang membawa daerah ini menuju kemajuan,” katanya.

Sementara itu, Muhammad Adi Satria, selaku Dewan Pembina GMI Provinsi Jambi, mengajak seluruh generasi muda Jambi untuk memiliki keyakinan dan keberanian menghadapi tantangan zaman. Ia menilai bahwa Jambi memiliki potensi besar, baik dari sisi sumber daya alam, sejarah, budaya, maupun kualitas sumber daya manusianya.

“Anak muda di Jambi harus lebih optimis dan lebih maju. Jangan merasa tertinggal. Justru kita harus menjadi motor penggerak mesin Gelombang Muda Indonesia. GMI hadir untuk menjadi ruang tumbuh, ruang belajar, dan ruang bergerak bagi generasi muda Jambi,” ujar Adi Satria.

Ia menambahkan bahwa gerakan kepemudaan harus mampu melampaui batas-batas organisasi dan kepentingan kelompok. Yang dibutuhkan saat ini adalah kolaborasi lintas sektor, lintas komunitas, dan lintas generasi agar lahir gagasan-gagasan baru yang mampu menjawab tantangan ekonomi, teknologi, lingkungan, dan kebudayaan.

“Jambi membutuhkan anak muda yang tidak hanya pintar berbicara, tetapi juga berani bekerja. GMI harus menjadi wadah yang melahirkan pemimpin-pemimpin masa depan dari tanah Melayu,” tegasnya.

Diskusi NGOLAM juga membahas pentingnya membangun identitas Melayu yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Para peserta menyoroti perlunya menghubungkan warisan sejarah Batanghari dengan inovasi, kewirausahaan, teknologi digital, ekonomi kreatif, serta kepemimpinan muda.

Berbagai gagasan mengemuka, mulai dari penguatan literasi sejarah Melayu, pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas, pengembangan industri kreatif, hingga pemanfaatan teknologi sebagai alat untuk memperluas pengaruh dan kontribusi generasi muda Jambi di tingkat nasional maupun internasional.

Suasana diskusi berlangsung dinamis. Para peserta tidak hanya mendengarkan pemaparan narasumber, tetapi juga aktif menyampaikan pandangan, kritik, dan usulan mengenai masa depan gerakan kepemudaan di Indonesia. Forum NGOLAM menjadi bukti bahwa ruang-ruang sederhana seperti ngopi malam dapat melahirkan ide-ide besar yang berpotensi menjadi gerakan sosial.

Di akhir kegiatan, DPP GMI menegaskan komitmennya untuk terus memperluas jaringan Gelombang Muda Indonesia ke berbagai daerah di Nusantara, termasuk memperkuat konsolidasi di Provinsi Jambi sebagai salah satu pusat penting kebangkitan peradaban Melayu.

Dengan semangat “Jadi Peradaban Batanghari, Energi Masa Depan Kaum Muda Melayu Indonesia”, GMI berharap lahir generasi muda yang tidak hanya bangga terhadap identitas Melayunya, tetapi juga mampu menjadi penggerak perubahan, inovasi, dan pembangunan Indonesia menuju masa depan yang lebih maju, berdaulat, dan bermartabat.